Keep The Faith

football fashion film for fun

Sepakbola Dalam Genggaman

Siapa yang tidak mengenal sepakbola? olahraga nomor satu di dunia. Olahraga yang bukan hanya sekedar permainan, tapi merupakan sebuah kebanggan bagi beberapa orang. Hal ini terbukti dari hebatnya apresiasi masyarakat dunia setiap ada perhelatan sepakbola negara maupun klub. Orang rela begadang sampai larut malam meskipun harus mencari nafkah esok paginya. Orang rela mengeluarkan kocek sangat dalam untuk membeli jersey negara atau klub idolanya. Orang rela berkelahi di dunia maya dan dunia nyata demi sebuah olahraga permainan yang bernama sepakbola.

Hal inilah yang menyebabkan sepakbola menjadi salah satu industri bisnis terbesar di dunia, mungkin kita ingat bagaimana Roman Abramovic membangun sebuah dinasti di Chelsea, bagaimana Sheikh Mansour mengambil alih Manchester City dari tangan Thaksin Sinawatra, dan bagaimana juga Malcom Glazer mengambil alih Manchester United, dan masih banyak contoh lainnya. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa sepakbola sangat menarik perhatian para bisnisman atau pengusaha dunia. Apakah mereka berkecimpung di sepakbola murni karena bisnis ? atau karena gengsi ? hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu hal itu.

Iri, bagaimana tidak ? Melihat sepakbola internasional mampu berdiri menjadi sebuah industri yang hebat, industri yang mendatangkan uang sangat banyak. Dari hasil jual beli pemain, pemasukan sponsor, pemasukan tiket, merchandise, bahkan dari uang taruhan yang dikelola oleh rumah judi. Tapi kenapa sepakbola belum menjadi industri di Indonesia ? negara yang mayoritas penduduknya gemar dengan olahraga permainan ini, negara yang bisa kita lihat hampir setiap sore anak-anak maupun orang dewasa rela membahayakan jiwanya dengan bermain di pinggir jalan dengan bola plastik, negara yang banyak orang rela mengeluarkan uang banyak untuk sekedar tur tandang menemani klub idolanya berlaga di kota lain.

Banyak ha yang harus diperbaiki untuk membuat sepakbola nasional menjadi industri. Potensi jelas ada, ini terlihat dari bagaimana animo penonton sepakbola saat AFF dan Sea Games beberapa waktu silam, orang rela mengantri tiket berjam-jam, tidak sedikit pula yang membeli dengan harga tinggi melalui calo, apa yang mereka harapkan sebenarnya ? pertandingannya ? atau masalah eksistensi nasionalisme yang dipajang melalu foto facebook dan profile di BBM ? atau sekedar bisa ngetweet ? 

Stadion mungkin faktor yang pertama harus diperbaiki di Indonesia, kalau gue jadi presiden, maka gue akan panggil seluruh gubernur di Indonesia dan menjamu mereka di sebuah jamuan makan siang, dan gue akan bilang sama mereka “Gue gak mau tau ! Pokoknya dalam waktu satu tahun, setiap daerah harus punya satu stadion bertaraf internasional !! Kalau enggak, gue copot lo semua dari gubernur !”. Hehehehe.. konyol sih, tapi ini penting kok melihat sepakbola merupakan hiburan termurah yang dapat dijangkau oleh masyarakat Indonesia. 

Kalau lapangan bola kita bagus, rata dan gak enak buat main, gue yakin kok permainan sepakbola itu sendiri akan menjadi indah. passing pasti akurat dan lari juga gak keseleo. Siaran langsung juga enak ditonton, jadi kualitas permainan sepakbola itu seimbanglah sama lapangannya. Pemain sekelas Messi atau Ronaldo pun bisa keseleo kalau main di lapangan yang gradakan, inget kan bagaimana Barcelona gak berkutik sama Chelsea di era Mou karena lapangan Stamford Bridge yang cukup mengecewakan sehingga permainan Barca gak berkembang? itu salah satu contohnya.

Keamanan, masalah ini adalah hal yang selalu diperhatikan dalam perhelatan sepakbola nasional, gimana enggak? berapa banyak wasit kita yang dipukulin ? berapa banyak tawuran antar supporter ? berapa banyak juga orang yang kecopetan karena desak-desakan masuk dan keluar stadion ? ini yang bikin sepakbola gak bisa jadi Tamasya bagi keluarga di Indonesia, jelas mereka khawatir bawa anak2nya untuk nonton bola langsung di stadion, selain karena masalah itu, ya karena khawatir anak2 akan mendengar umpatan2 kotor dan kasar dari beberapa orang yang menghina pemain lawannya. Miris yes…

Seandainya kualitas permainan dan keamanan bisa terjaga dengan baik dan meningkat, gue yakin kok sepakbola nasional bisa menjadi potensi bisnis yang bagus. Tidak usah meragukan fanatisme, orang Indonesia terkenal dalam hal itu kok. Jadi, tugas siapa sebenarnya untuk meningkatkan permainan sepakbola dan keamanan dalam sepakbola nasional ? Ya tugas kitalah sebagai masyarakat pecinta sepakbola. Masih punya mimpi nonton Indonesia di World Cup kan? Memang gak bisa instan dan butuh proses, tapi percaya deh proses itu akan cepat berjalan kalau semuanya sama-sama gandengan tangan untuk berjibaku melawan kendala-kendala ini. 

Realistis Logis

Dengan 10 gelar juara yang telah mereka raih, Persija Jakarta menjadi klub yang selalu diunggulkan setiap memulai musim kompetisi baru liga kasta tertinggi di Indonesia.

 

Akhir pekan lalu (16/2), Persija Jakarta menjamu Arema Indonesia dengan bermodalkan hasil yang kurang memuaskan para pendukung setianya atau yang biasa disebut The Jakmania di enam partai sebelumnya. Partai melawan tim penuh bintang Arema Indonesia ini adalah laga kandang keempat dari total tujuh pertandingan yang sudah dilalui oleh Macan Kemayoran. Hasil imbang melawan Persisam Samarinda, kekalahan atas Mitra Kukar dan kemenangan melawan tim PSPS Pekanbaru di Stadion Utama Gelora Bung Karno serta satu laga kandang yang harus dipindahkan ke Stadion Manahan Solo melawan Persegres dengan hasil imbang membuat rasa optimistis The Jakmania berubah menjadi realistis.

 

Kata dan rasa realistis melihat kondisi Persija Jakarta saat melawan Arema Indonesia bukan tanpa alasan. Melawan tim yang dihuni oleh nama besar seperti Kurnia Mega, Victor Igbonevo, Egi Melgiansyah, Keith Kayamba, Alberto Beto Gonzalves dan Cristian Gonzales dan trend negative yang ditunjukan anak asuh Iwan Setiawan membuat kata realistis menjadi sangat logis. Dan pada kenyataannya, realistis yang menghinggapi para pendukung Persija menjadi kenyataan, laga sore itu berhasil membuat Arema Indonesia meraih poin 3 pertamanya di laga tandang saat sebelumnya mereka gagal total saat melawan Barito Putra dan Persiba Balikpapan.

 

Laga sore itu dimenangkan oleh Arema Indonesia dengan skor 2-1, gol dicetak oleh Keith Kayamba dan Beto Gonzalves setelah sebelumnya Persija berhasil unggul terlebih dahulu melalui gol Pedro Javier pada menit ketiga babak pertama. Hasil ini semakin memperburuk keadaan setelah hari senin lalu, Persidafon mampu menumbangkan Persiwa Wamena dengan skor 3-1 dan membuat Persija Jakarta berada di dasar klasemen sementara Liga Super Indonesia. Sebuah posisi yang pasti dirasakan seperti bencana alam Tsunami di Aceh bagi The Jakmania. Sebuah posisi yang baru pertama kali saya rasakan sebagai pendukung Tim Macan Kemayoran sejak tahun 1998 silam. Dan memang ini benar-benar menjadi sebuah bencana.

 

Tentu tidak masuk di akal bahwa tim sekelas Persija Jakarta yang menjadi pemasok pemain-pemain andalan di Tim Nasional Indonesia selama bertahun-tahun harus rela merasakan berada di dasar klasemen. Hari selasa nanti (26/02), Fabiano Beltrame dkk harus menghadapi tim promosi Persita Tanggerang yang saat ini berada di posisi 9 klasemen sementara Liga Super Indonesia yang akan dimainkan di Stadion Jatidir Semarang dikarenakan ada agenda politik di wilayah Jawa Barat.

 

Kemenangan tentunya adalah harga mati yang harus diberikan oleh para pemain Persija Jakarta jika mereka mau memperbaiki posisi dan mengembalikan rasa kepercayaan The Jakmania serta membuat mereka kembali menjadi optimistis. Sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan oleh Iwan Setiawan sebagai pelatih kepala, sebuah tanggung jawab kepada mereka yang cinta Persija. Ayo Bangkit Persija !

TEATER AMOEBA : SKAK MAT ! (EDISI CAPSLOK GAK SANTAI)

 

Jam menunjukan pukul tujuh malam, para penonton sudah antri di depan pintu masuk auditorium Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Baru kali ini saya lihat, orang mau nonton teater seperti mau nonton konser musik artis K-Pop. Tiket sudah sold out sejak pukul setengah tujuh, dan hebatnya masih banyak lagi orang yang berdatangan dan ingin membeli tiket pertunjukan Teater Amoeba. Mungkin salah satu alasan orang ingin sekali menyaksikan pertunjukan Teater Amoeba adalah karena grup ini adalah pemenang Festival Teater Jakarta tahun 2011, juga karena naskah yang dipentaskan berpotensi memberikan sebuah pertunjukan yang berkualitas, “Kopral Woyzeck” karya Georg Buchner. Dari sumber yang saya lihat, Georg Buchner adalah seorang dramawan dan penulis prosa yang berasal dari Jerman. And Franz Woyzeck (Kopral Woyzeck) is a hapless, hopeless soldier, alone and powerless in society, assaulted from all sides by forces he cannot control, begitu penuturan mereka tentang tokoh ini di dunia maya yang saya temukan. Pernyataan itu sejalan dengan apa yang saya lihat di pementasan Teater Amoeba tadi malam, seorang tokoh yang dibangun dengan proses latihan yang intens dan olah tubuh yang luar biasa. Tokoh ini diperankan oleh Haikal Sanad, salah satu aktor nakal kesukaan saya di alam teater Jakarta sekarang ini. Begitu antusiasnya masyarakat teater Jakarta yang ingin menyaksikan pertunjukan Teater Amoeba, sampai membuat panitia FTJ 2012 memberikan tontonan melalui layar lebar yang terletak di Lobby Teater Kecil guna memberikan mereka (Penonton yang kehabisan tiket) sebuah bentuk apresiasi dan pelepas dahaga.

 

“Yang penting dari sebuah pertunjukan teater adalah opening attack-nya”, begitu guru teater saya mengatakan dulu saat saya masih dalam proses belajar (Meskipun sekarang juga masih belajar :D). Oleh karena itu, saya akan selalu memperhatikan sebuah pertunjukan dari bagaimana cara mereka membuka pertunjukan itu, dari layar terbuka sampai ada dialog pertama. Namun dalam pementasan Kopral Woyzeck ini, pementasan dibuka dengan tampilan pembukaan film dengan mengunakan multimedia, sekilas yang ada di pikiran saya adalah pertunjuka ini akan berjalan dan terasa seperti film Inglorius Basterd karya sutradara Quentin Tarantino. Dan sialnya, memang pertunjukan ini seperti film tersebut, sangat khas Jerman yang penuh dengan penandaan-penandaan. Peran multimedia itu sendiri tidak hanya sebagai setting, tapi selama pertunjukan berlangsung, ia menjadi penanda yang memiliki korelasi dengan pengadeganan yang dibuat oleh Joind Bayuwinanda.

 

Melihat pertunjukan Teater Amoeba, saya melihat sebuah gerakan militer yang dimiliterkan, koreografi pasukan-pasukan yang dibuat sedemikian rupa, memanjakan mata, tidak terkesan tempelan, tapi menjadi imbuhan. Satu hal yang saya salut adalah dalam pembukaan pertunjukan ini, Joind melawan patern hukum panggung dengan sebuah bloking full back yang membelakangi penonton, dari sini saja sudah terlihat kenakalan-kenakalan Teater Amoeba. Secara keseluruhan, bahasa atau tuturan aktor di pertunjukan ini sulit dimengerti karena mungkin naskah ini merupakan kumpulan sajak, tapi apa yang ingin disampaikan, itu dapat diterima melalui gerak tubuh dan pengadeganan, bahkan saya rasa, tanpa dialog pun pementasan ini dapat berjalan sempurna.

 

Satu hal yang sangat memanjakan mata saya adalah adegan sirkus, bukan sebuah adegan akrobatik, tapi adegan orang-orang selayaknya di pasar malam Jerman yang penuh dengan misteri-misteri, dan adegan ini sangat cetar membahana (Mengambil salah satu komentar penonton saat diskusi pertunjukan).

 

Teater Amoeba sangat serius menggarap setiap detail dalam pertunjukan mereka, seolah semuanya sudah diperhitungkan, dalam pementasan ini, tidak ada lagi pemikiran “Harusnya begini… Harusnya Begitu…”, karena pementasan ini sudah sangat sempurna menurut saya pribadi sebagai penonton, durasi satu jam membuat pementasan ini meninggalkan banyak pesan kepada penonton, pesan seperti apa, kita punya persepsi masing-masing. Pementasan ini memberikan ledakan-ledakan yang bukan hanya dapat menghibur, melainkan memberikan sebuah instrospeksi diri bagi para penonton, tentang bagaimana kalutnya manusia yang setiap harinya didera kesedihan, saya setuju karena kesedihan adalah tradisi masyarakat Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, hampir setiap hari di tv selalu ada tangisan, bukan hanya oleh sinetron dan berita, tapi oleh mereka yang membuat reality show macam olga.

 

Saya tidak bisa banyak berkata-kata dalam pementasan ini, begitupun Afrizal Malna selaku pengamat pertunjukan. Karena pada dasarnya, seperti permainan catur, Teater Amoeba sudah memberikan SKAK MAT! Kepada peserta yang lainnya. Salut !

 

UKORO oleh Teater Indonesia

“Kalau mereka mati, apakah kehidupan menjadi lebih baik selanjutnya ? Atau akan lahir lagi mereka-mereka yang akan terus menggangu hidup manusia.. seperti setan.. “

Festival Teater Jakarta memasuki hari kesebalas, atau hari kesepuluh dalam lomba teater Festival Teater Jakarta 2012. Grup yang berkesempatan tampil adalah wakil dari ATAP (Asosisasi Teater Jakarta Pusat), Teater Indonesia. Grup ini meraih grup terbaik 3 dalam babak penyisihan Festival Teater Jakarta Pusat yang berlangsung sekitar bulan Juni – Juli. Teater Indonesia adalah grup teater yang bisa dikatakan sebagai grup langganan babak final Festival Teater Jakarta. Pada pelaksanaan FTJ tahun 2011, grup ini memainkan naskah Jerit Tangis di Malam Buta, pada tahun ini, Budi Ketjil mencoba memainkan naskah sendiri yang berjudul Ukoro. Pementasan yang berdurasi kurang lebih 75 menit ini menggunakan konsep pementasan realis di dalam pertunjukannya. Hal ini didukung oleh tata panggung yang sangat baik dan dapat mengambarkan kebutuhan dari tiap adegan-adegan di dalam pertunjukan.

Setting awal pertunjukan ini menggambarkan sebuah ruang tamu mewah dengan sebuah meja dan satu set sofa. Dinding yang dibuat sedemikian rupa dilapis dengan digital printing yang terlihat seolah wall papper serupa istana Buckingham di Inggris. Secara garis besar, Ukoro ini menceritakan tentang seorang tokoh separuh baya bernama Ukoro yang mengundang empat orang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dengan tajuk Undangan Rahasia. Keempat tokoh itu merefleksikan empat penjahat kehidupan yang selama ini menyengsarakan rakyat, keempat tokoh itu adalah seorang rentenir yang dibuat dengan dialektika batak, seorang germo, seorang tukang pukul dan seorang koruptor. Mereka berempat dibius dengan minuman beralkohol oleh Markus, seorang pelayan pribadi Ukoro. mereka berempat tidak sadarkan diri lalu lampu panggung mati dan terjadi perubahan setting dengan tempat yang sama, hanya saja lebih berantakan, entah maknanya apa. Adegan selanjutnya diawali oleh seorang perempuan yang bisa dikatakan istri dari Ukoro, namun ketidakjelasan informasi berapa usia istri dan berapa lama mereka menikah, menjadikan peran istri itu tidak penting di dalam pertunjukan ini. Istri itu ingin keluar rumah, namun selalu terbentur pada satu pintu yang sengaja dikunci oleh Ukoro, seakan dia tidak menginginkan sang istri untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar, namun keanehannya adalah perhiasan dan tampilan dari istri itu sangat menunjukan seorang istri pejabat yang gemar bersosialisasi. Terjadi pertengkaran diantara istri dengan Ukoro, entah bagaimana logikanya, tiba-tiba isu yang berkembang di dalam pertengkaran itu adalah penyakit impotensi yang diderita oleh Ukoro, dan hal ini menjadi senjata istri untuk menyerang suaminya itu.

Pertengkaran itu mengakhiri adegan dua, lalu set berubah menjadi sebuah ruang bawah tanah, seperti ruang penjara di jaman penjajahan Belanda dulu yang akrab kita temui di museum Fatahillah. Masuklah Markus, pelayan pribadi Ukoro yang menurut saya juga kurang jelas informasi latar belakangnya, berbeda dengan tokoh Alferd di film Batman. Ketika Markus masuk, keempat tokoh yang diracun itu sudah terikat oleh rantai yang menyambung ke dinding, mengekang, memaksa dan menolak keempat tokoh itu untuk bergerak dan berpikir jernih. Akibatnya, masing-masing tokoh dengan persoalannya yang berbeda seperti bertengkar dengan dirinya sendiri di adegan ini. Keempat tokoh itu menjadi saling bertengkar satu sama lain, saling mensucikan diri mereka dan membandingkan kesalahan mereka satu per satu. Sebuah komedi menurut saya, bagaimana orang-orang yang menjadi musuh masyarakat, saling mengangungkan diri mereka dan berteriak bahwa merekala yang paling pantas untuk dilepaskan oleh Markus. Berbagai cara mereka tempuh untuk menarik hati Markus, dari godaan sex, uang sampai ancaman tidak dibunuh. Singkat cerita, mereka berempat dibunuh oleh Ukoro, begitupun juga dengan Markus. Pada akhir cerita, semuanya mati termasuk tokoh istri yang mendadak bisa masuk ke dalam ruang bawah tanah itu entah apa motivasinya.

Permainan dari para aktor dan aktris Teater Indonesia membuat sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan untuk disaksikan, dramaturgi adegan per adegan sangat tergarap dengan rapih, sisi emosional dan kedekatan peristiwa cukup menolong penonton untuk dekat dengan apa yang ditampilkan oleh Budi Ketjil. Permainan aktor menghidupkan adegan dengan penegasan dan pemilihan bentuk acting yang tidak hanya sebatas kulitnya saja, tapi dari intinya juga sangat bagus.

Ukoro seperti ingin mengulangi kedigdayaannya pada masa-masa kejayaannya, hemat saya, Ukoro adalah seorang Jaksa, Hakim, Pegawai KPK, atau bahkan seorang Super Heroes pada jamannya. Ukoro berusaha untuk memberantas segala bentuk kejahatan, kejahatan yang dapat diwakilkan oleh tokoh rentenir, germo, koruptor dan tukang jaggal manusia. Pemilihan latar belakang keempat tokoh dalam naskah ini saya rasa cukup actual, karena pada kenyataannya, saat ini keempat orang itu adalah setan yang sesungguhnya di masa sekarang ini. Salah satu keanehan naskah ini adalah adanya peran istri yang sebenarnya jika dihilangkan, tidak akan mengurangsi kebagusan naskah ini, malah mungkin akan jadi jauh lebih berbeda. Pemilihan untuk menampilkan rasa kecemburuan Ukoro kepada Markus yang diterjemahkan dengan adegan saat tokoh istri histeris melihat Markus tewas dan memegang alat kelamin Markus, itu sangat memberikan penafsiran lain yang lebih berkembang di pandangan penonton.

Saya seperti menyaksikan film Dono Kasino Indro, film yang membuat tawa, menghibur sekaligus asik untuk mengisi waktu luang, namun tidak dapat pesan atau sesuatu yang bisa saya bawa pulang kecuali ingatan bagaimana tokoh-tokoh dalam pertunjukan ini memainkan naskah ini.

Saya menyayangkan, naskah Ukoro ini kurang maksimal dalam alur cerita dan pemilihan isu dan tema. Seandainya cerita ini dibuat mengerucut pada satu persoalan dan permasalahan, pasti juga akan jauh lebih sempurna pertunjukan Teater Indonesia ini. Musik yang mengiringi pertunjukan ini cukup komunikatif dan sesuai dengan kadar kebutuhan adegan, hanya sayang dirasa kurang meneror penonton, tidak imbang dengan tempo permainan yang dimainkan Teater Indonesia. Tata lampu mengalami sedikit gangguan teknis, tapi sepanjang pertunjukan, cukup aman meskipun tidak ada penandaan waktu, baik siang dan malam. Kalau boleh mengritik masalah kostum, saya hanya menyangkan pakaian batik yang dikenakan Ukoro di adegan awal, seperti bapak-bapak Pacitan mau kondangan, terlihat kurang parlente. Tokoh Markus yang dimainkan oleh Budi Ketjil juga aneh, gerak-gerak kepala layaknya hanya sebatas tempelan, seperti yang saya bilang di atas, seandainya dibuat seperti Alferd di film Batman, mungkin akan berbeda. Secara keseluruhan, pertunjukan Teater Indonesia bagus dan dapat diterima, hanya sayang ceritanya saja yang kurang mendukung. Pesan-pesan yang ingin disampaikan menjadi bias di akhir cerita. Sayang nilainya tidak menjadi 10, baru 8,5.

Dramatic Reading Bandar Teater Jakarta
“Mesin Hamlet”
Karya : Heins Muller
Sutradara : Malhamang Zamzam
1 Desember 2012
Lobby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Dramatic Reading Bandar Teater Jakarta

“Mesin Hamlet”

Karya : Heins Muller

Sutradara : Malhamang Zamzam

1 Desember 2012

Lobby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Dalam upaya pemberdayaan, jangan pernah kita berpikir bahwa kita yang menemukan masalah dan menentukan arah selanjutnya

DR. Nusa Putra, S.Fil., M.Pd

Wayang Tavip dan Budi Ros
Pembukaan Festival Teater Jakarta ke-40 Tahun 2012
26 November 2012
Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Wayang Tavip dan Budi Ros

Pembukaan Festival Teater Jakarta ke-40 Tahun 2012

26 November 2012

Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Konferensi Pers
Festval Teater Jakarta ke-40 Tahun 2012
Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki

Konferensi Pers

Festval Teater Jakarta ke-40 Tahun 2012

Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki

Bung Besar : Militansi

Bung Besar, Karya Misbah Jusa Biran. Sebuah naskah yang berkutit tentang kisah seorang pemimpin dan mereka yang ada di belakangnya. Pementasan “Bung Besar” dimainkan oleh Teater Universitas Indonesia dalam babak final Festival Teater Jakarta 2012. Teater UI baru pertama kali masuk ke dalam babak final FTJ setelah sebelumnya sekitar kurang lebih tiga kali mengikuti penyisihan FTJ di Jakarta Pusat dan gagal masuk ke babak final. Teater UI diharapkan mampu memberikan pertunjukan yang dapat menunjukan intelektualitas mahasiswa karena dengan background akademis yang dimiliki oleh para pemain serta grup itu sendiri.

Durasi pementasan sekitar 2 jam lebih. Terlalu lama untuk menyatakan sebuah pendapat atau penafsiran yang ada di dalam naskah Bung Besar. Seandainya pementasan ini berlangsung selama 90 menit saja, saya yakin pementasan ini akan menjadi sangat berbeda. Kekuatan utama di pementasan ini adalah kemampuan nalar para pemainnya. Mereka mampu menghipnotis para penonton untuk setia berada di tempat duduk tanpa harus merasakan bosan. Lebih dari itu, tidak ada hal yang lebih menarik ketimbang permainan para pemainnya. Dari segi penyutradaraan, Bang Fian dirasa kurang memberikan sentuhan yang maksimal di dalam pertunjukan ini. Pemilihan konsep realis atau surealis rasanya menjadi masalah utama dalam pementasan ini. Konsistensi dipertananyakan, mau menjadi apa dan seperti apa pemantasan ini. Tidak banyak kata yang bisa saya ucapkan untuk menanggapi pementasan ini. Berbicara teknis tentu banyak sekali yang harus diberikan dan dikritik demi kemajuan Teater UI itu sendiri. Namun yang pasti, saya sangat salut atas militansi Bang Fian menggarap Teater UI. Salut.

Wayang Tavip dan Budi Ros
Pembukaan Festival Teater Jakarta 2012
Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Wayang Tavip dan Budi Ros

Pembukaan Festival Teater Jakarta 2012

Teater Kecil Taman Ismail Marzuki

Rumah Bengkok Yang Membengkokan

Hari ke-5 Festival Teater Jakarta, atau hari ke-4 Lomba Teater Festival Teater Jakarta ke-40 Tahun 2012, kali ini menampilkan Pandu Teater dengan lakon “Rumah Bengkok”, karya dan sutradara oleh Gultom Tewe. Pementasan ini kembali dimulai pada pukul 20.00 WIB dan berdurasi sekitar 60 menit. Yang berbeda dari biasanya adalah pada mala mini, salah satu dewan juri yaitu Benny Yohanes atau yang dikenal dengan Benjon berhalangan hadir dikarenakan sakit.

“Warisan bisa menyebabkan kematian, sakit jiwa, dan gangguan sosial. Skat mat !” – Samawa – Rumah Bengkok

Rumah Dara, film thriller yang dibuat oleh Mo Brothers. Sekilas saya merasakan rasa yang sama ketika saya menyaksikan film tersebut dengan menyaksikan pertunjukan dari Pandu Teater tadi malam. Tema besar yang diambil oleh Pandu Teater dalam pertunjukannya menurut saya adalah “Warisan”, dengan sub tema “Mutilasi”. Hanya saja, penampilan multimedia sebagai pembuka adegan yang menampilkan cuplikan-cuplikan berita di tv tentang mutilasi menurut saya kurang mengena dengan akhir dari pertunjukan tersebut.

Sebagai sebuah pertunjukan, Rumah Bengkok menampilkan sesuatu yang berbeda, segala bentuk dialog dan pengadeganan dibuat sangat misterius. Tetapi pada kenyataannya, saya sebagai penonton tidak hanya mencari sebuah pertunjukan visual yang menarik, melainkan isi dari pertunjukan itu, apa yang bisa kita bawa pulang sebagai penonton untuk dipelajari, dipahami dan dijalankan di kehidupan kita sehari-hari. Saya merasa kehilangan pesan yang coba disampaikan oleh Pandu Teater. Entah karena saya kurang jeli dalam membaca pertunjukan atau memang karena pesan itu tidak sampai ke benak para penonton.

Artistic pertunjukan ini sebetulnya menarik jika Pandu Teater mencoba mengkonsepkan ruang-ruang yang berada di atas panggung. Kain putih yang mungkin bermakna sebagai tembok besar, sebuah meja makan dengan tudung saji warna merah dan lampu bohlam di atasnya, sebuah meja yang diatasnya terdapat permainan catur yang selalu dijadikan tempat Putra dan Putri untuk bersengkongkol untuk melakukan tindakan yang ingin mereka lakukan, baik dan jahat. Sebuah balkon tangga yang tidak berfungsi karena tidak adanya pengadeganan yang menguatkan balkon itu secara skenografi pemangungan.

Banyak hal yang dilupakan oleh Pandu Teater menurut hemat saya. Kain putih yang bertindak sebagai sebuah screen yang menampilkan video-video yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam pertunjukan itu. Seharusnya multimedia memiliki peran besar dalam menguatkan pertunjukan, namun yang terjadi di pertunjukan ini malah membuat sia-sia.

Positifnya, cerita sederhana masalah warisan sudah banyak terjadi di Indonesia sekarang ini. Namun Pandu Teater memberikan saya inspirasi dengan naskah yang mereka bawakan. Permainan aktor dan aktrisnya yang saya rasa cukup kuat, hanya sayang sentuhan sutradara kurang mampu menggali para aktor dan aktris.

Tidak ada pesan moral yang saya tangkap dalam pertunjukan ini. Yang saya lihat dan saya baca hanyalah Pandu Teater memainkan sebuah naskah realis dan didekatkan dengan bentuk pertunjukan surealis.

Teater Piranti “Siapa Yang Salah” menjadi “Tidak Ada Yang Salah Karena Akan Selalu Ada Pembenaran”

Hari ini (29/11/2012), memasuki hari ketiga pelaksanaan Lomba Teater dalam rangka Festival Teater Jakarta ke-40 tahun 2012. Grup yang tampil adalah Teater Piranti yang berasal dari Jakarta Timur memainkan lakon “Siapa Yang Salah”, sebuah naskah adaptasi dari “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani. Pementasan dimulai jam delapan malam, pementasan yang tak lebih dari satu jam ini menampilkan permainan aktor dan aktris yang memanjakan mata dengan kualitas teknik bermain dari segi vokal, ekspresi dan pendalaman karakter.

Pertunjukan ini dibuka dengan sebuah adegan penandaan yang menegaskan bahwa setting atau latar terjadinya persitiwa dalam pertunjukan ini adalah di sebuah kampung betawi, mengapa saya menyebutkan kampung betawi, karena setting yang hanya terdiri dari sebuah rumah khas betawi berwarna kuning dengan satu buah bangku panjang di terasnya, dua buah bangku dan satu meja untuk menerima tamu yang sangat lekat dengan betawi, dan beberapa rangkaian “kembang” yang berada di dalam pagar kayu yang kurang lebih tingginya 30 cm.

Permainan acting Liz Besoes dan Bengbeng tidak perlu diragukan lagi, hanya ada beberapa hal yang sepertinya luput atau sengaja luput oleh sutradara. Setting menurut saya terlampau bersih untuk dikatakan mereka adalah keluarga yang miskin. Banyaknya ruang yang tidak dieksplor mengakibatkan panggung terasa kosong dan mubazir. Beberapa adegan dilakukan dengan bloking dan body position yang cukup boros. Boros disini yang saya maksud adalah tidak penting dan terkesan hanya mengambil efek drama.

Seandainya sutradara Teater Piranti ini berani untuk memainkan waktu dengan tidak adanya black out di dalam pementasan tadi, pasti akan berbeda. Sangat disayangkan pemilihan music yang tampak seperti dipaksakan, dan lagi-lagi menurut saya hanya mengambil efek dan tidak pas pada porsinya dan kegunaannya sebagai penguat adegan. Kalau saya, cukup diberikan satu suara adzan sebagai penanda bergantinya waktu dari sore/siang menuju malam dimana sang istri pulang kerumah.

Logika-logika tempat juga tidak dipikirkan dengan detail, misalnya tidak ada penanda kapan peristiwa ini terjadi dan di Jakarta sebelah mana terjadinya ? aksen-aksen dialog betawi yang dibentuk juga tidak kental dan terasa tanggung. Pemilihan aksen peran Pak Haji yang Madura dan tukang kredit yang sunda sangat stereotip menurut saya, dan akhirnya menjadi terjebak di dalam situasi yang seharusnya bisa cair sendiri.

Meskipun cerita ini diadaptasi dari Sayang Ada Orang Lain dan diambil hanya ceritanya bukan secara utuh naskahnya, bukan melulu harus persis atau sama dengan yang sesungguhnya. Masalah nalar adegan yang seharusnya terjadi di dalam kelambu (missal saat suami dan istri bertengkar tentang harga diri seorang suami yang tejadi di luar rumah), itu sangat menggangu karena secara logika, rumah yang terletak dalam gang sangatlah akrab dengan bisik-bisik tetangga.

Satu catatan yang saya cermati, saya jauh lebih menikmati pertunjukan itu kalau misalnya Liz Besos dan Bengbeng perannya sesuai dengan bentuk fisik asli pemainnya. Tidak perlu ada pembelaan dan penegasan mereka adalah pasangan yang baru menikah, mungkin akan jadi berbeda kalau persoalannya adalah mereka pasangan suami istri yang sudah menikah 20 tahun, belum memiliki anak dan hidup di dalam kemisikinan. Penonton akan menjadi semakin liar untuk menafsirkan apa makna “Sayang Ada Orang Lain” di dalam pertunjukan “Siapa Yang Salah”.

Dalam diskusi setelah pertunjukan, sutradara (Teater Piranti) menyebutkan bahwa ini adalah realita. Namun saya menjadi bertanya, realita itu di Jakarta mana ? Jakarta Timur ? Selatan ? Barat atau Pusat ? atau bahkan Utara? Setiap daerah punya realitanya masing-masing yang bisa didebatkan. Saya selalu bertanya, apakah ini Jakarta pinggiran atau Jakarta Kota ? tapi sudahlah. Rasanya tidak terlalu penting menanggapi masalah waktu, karena toh pada akhirnya pembelaan dari grup mengalahkan segalanya. Hehehehe..

Saya mengutip perkataan bang Afrizal Malna, bahwa Betawi tidak ada ruang privasi seperti di Jawa, satu-satunya pagar adalah kampung, ini semua terjadi karena Betawi adalah Komunal. Sederhana saja, apapun kalau sudah ada di panggung menjadi informasi, sebuah pertunjukan menjadi persoalan besar ketika masih ada pertanyaan..

Dari kata-kata tersebut saya bisa menafsirkan bahwa Teater Piranti kurang detail dalam menggarap pertunjukan tersebut. Seandainya ada mentor yang bertugas mengawasi dan memberikan masukan agar pertunjukan di FTJ tidak lagi berdebat kualitas, melainkan ide gagasan, pasti akan menjadi sangat menarik. Menurut saya pribadi, cerita ini sangat menarik dan seandainya digarap dengan detail, hasilnya pasti akan menjadi berbeda.

FTJ (Menurut Saya)

Festival Teater Jakarta (FTJ) atau yang dulu bernama Festival Teater Remaja Jakarta (FTR) kini sudah berlangsung selama 40 kali dalam kurun waktu 39 tahun. Pada tahun 1973, Festival ini diusung oleh Almarhum Wahyu Sihombing, seorang anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Festival teaterini berubah nama menjadi Festival Teater Jakarta pada decade 80-an, tepatnya pada tahun 1984. Tokoh teater Indonesia yang mengusulkan perubahan nama ini adalah Almarhum WS. Rendra. Beliau merasa festival ini sudah bukan menjadi festival remaja karena pencapaian-pencapaian estetika pertunjukan dan kualitas pertunjukan yang semakin menunjukan peningkatan.

Meskipun FTJ ini sudah terasa seperti acara ritual tahunan bagi masyarakat teater di Jakarta, tetapi acara ini juga tidak luput dari segala pro dan kontra, misalnya ada yang beranggapan bahwa FTJ tidak ada gunanya karena setelah program teater senior yang dihilangkan. Seolah FTJ ini hanya menjadi ajang para grup-grup teater untuk melakukan pementasan yang tidak menyulitkan grup tersebut dalam hal manajemen. Itulah mengapa banyak sekali masyarakat teater Jakarta yang masih terpenjara di dalam FTJ.

Pementasan yang tidak membutuhkan biaya sewa gedung, tidak sulit mendatangkan penonton dan mendapatkan biaya pertunjukan yang menurut saya pribadi cukup besar menjadi alasan yang sulit didebatkan mengapa orang tetap bertahan di ajang tahunan yang sejak 2006 ini menjadi agenda Dewan Kesenian Jakarta setelah sebelumnya terjadi di Gelanggang-gelanggang Remaja di wilayah kotamadya.

Hadiah uang tunai yang sangat besar bagi para pemenang juga merupakan alasan utama orang tetap menanggap FTJ adalah ajang yang bagus untuk berkesenian khususnya teater. Bayangkan, sebuah grup bisa mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 25 juta rupiah dan ditambah 15 juta rupiah untuk melakukan pementasan ulang sebagai ajang apresiasi untuk pemenang tersebut. Meskipun terkadang bagi masyarakat teater, uang 40 juta rupiah dirasa selalu kurang untuk melakukan sebuah pementasan, tapi bagi mereka yang tidak menang, biaya subsidi 500 ribu rupiah sampai dua juta rupiah cukup untuk membuat pertunjukan yang layak.

FTJ merupakan sebuah festival, sebuah festival yang berintikan lomba teater yang disana ada juri-juri yang merupakan tokoh-tokoh teater Indonesia yang namanya sudah mendunia, sebut saja beberapa juri langganan FTJ seperti Nano Riantiarno dari Teater Koma dan Putu Wijaya. Juri-juri dipilih melalui mekanisme rapat SC (Stering Committee) yang terdiri dari perwakilan lima asosiasi wilayah dan anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Merekalah yang berperan dalam perhelatan FTJ selain seorang Project Officer yang mengkonsepkan segala bentuk teknis pelaksanaan FTJ saat tahun berlangsung.

Saya sendiri baru mengenal FTJ sekitar tahun 2004, saat itu saya mengikuti FTJ bersama Teater ATELA SMAN 3 Jakarta. Kami memainkan naskah Panti Salah Asuhan dan pertunjukan dilaksanakan di Gelanggang Remaja Jakarta Barat. Proses yang sangat panjang kami alami sebelum masuk ke dalam babak final, disitulah kami punya alasan betapa bangganya kami bisa mewakili Jakarta selatan di ajang bergengsi tersebut. Lantas saya kembali ke FTJ pada tahun 2008 bersama Teater Nonton. Kami langsung mendapatkan sambutan yang baik dalam ajang tersebut, penghargaan berupa Grup Terpujikan dan Naskah Drama Asli Terbaik kami terima. Sejak saat itu, kami Teater Nonton selalu ingin mengikuti FTJ, dengan kata lain kami ingin mengasah kemampuan kami berteater.

Tahun 2012 ini, Teater Nonton absen di FTJ ke-40 karena satu dan lain hal, ya intinya sih karena kami hanya menduduki peringkat lima di penyisihan wilayah. Tapi karena saya kebetulan menjadi koordinator acara di FTJ 2012 ini, saya jadi banyak belajar betapa pentingnya FTJ bagi masyarakat teater di Jakarta. Saya bisa mengenal banyak orang hebat lainnya, saya jadi tahu bagimana posisi teater di Jakarta dan seperti apa rasanya mengurus orang teater. Semoga ini bukan yang terakhir untuk saya menjadi panitia FTJ, karena pada dasarnya, hal ini sangatlah menyenangkan.

Festival Teater Jakarta Ke-40

Festival Teater Jakarta telah memasuki pelaksanaannya yang ke 40. Ini adalah sebuah rekor yang tak pernah dicermati sebelumnya. Bahwa pada kenyataannya Festival Teater ini nyata adalah sebuah Festival Teater Tertua Dalam Format Kompetisi di dunia. Festival Teater Jakarta ini berlangsung sejak tahun 1973 dan dicetuskan oleh Alm. Wahyu Sihombing (Dulu bernama Festival Teater Remaja, sejak 1973 hinga 2000). Beberapa tahun belakangan acara ini diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki dengan harapan para seniman teater jakarta mendapat perhatian sebagaimana mestinya hingga dapat menghasilkan karya yang tidak hanya memenuhi sarat kualitas dan kuantitas, melainkan juga karya yang inovatif. Tahun ini, Final FTJ 2012 diikuti oleh 16 kelompok hasil penyaringan dari 5 wilayah di Jakarta.

Sejak 2010 Festival Teater Jakarta (FTJ) berusaha membuat sebuah platform yang mengusung prinsip besar MEMBACA AKU MEMBACA LAKU. Platform yang dilaksanakan selama tiga tahun dengan tema dan fokus yang berbeda setiap tahunnya : Membaca Lingkungan, Membaca Naskah dan Membaca Tradisi. Pada perhelatannya yang ke-40 ditahun 2012, ini FTJ mengambil subtema “Membaca Tradisi. Tema ini akan menjadi semangat olah kreatif bagi para pekerja seni teater Jakarta khususnya para kreator muda. Tema ini juga akan menjadi pemicu kreatifitas seluruh pengurus dan anggota asosiasi teater di lima wilayah Jakarta dalam pelaksanaan FTJ dan program tahunannya. Dengan demikian diharapkan FTJ dapat merangsang dan mengkondisikan kehidupan perteateran di Jakarta pada persoalan peningkatan kualitas tampilan estetik dan artistik disatu sisi, pada sisi konten (temacerita) pun menyentuh persoalan (baca: tradisi) kehidupan masyarakat khususnya masyarakat urban Jakarta. Jangkauan dari dua sisi inilah yang nantinya diharapkan mewujud pada ‘teater yang hidup’ dan mengembalikan teater sebagai hiburan yang mencerdaskan serta menjadikan teater sebagai kebutuhan masyarakat Jakarta.

 Sebagai sebuah ajang kreatif yang telah bertahan 40 tahun, FTJ menjadi sebuah fenomena menarik untuk dikaji dan diuji sebagai lembaga pembinaan perteateran di Jakarta. Perjalanannya yang relatif panjangmenjadi bukti kebertahanan sebuah proses pembinaan yang terus menerus tanpa putus yang mengisyaratkan adanya sistem dan mekanisme yang solid dan terjaga. FTJ memungkinkan menjadi semacam cermin bagi proses pembinaan perteateran di Indonesia. Hal inilah yang akan menjadi kunci penyelenggaraan FTJ ke-40 tahun 2012 ini untuk disaksikan disamping kualitas penampilan peserta lomba teater yang menjadi inti perhelatannya.

 Waktu penyelenggaraan diselenggarakan mulai tanggal 26 November sampai dengan 13 Desember  2012. Diawali dengan Pembukaan FTJ 2012, pada hari Minggu, tanggal 26 November 2012 yang akan diadakan di Studio Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM).

 Hari-hari selanjutnya, FTJ 2012 diisi dengan acara Final Lomba FTJ 2012 selama 16 hari (27November sd 12 Desember 2012, Tanggal 13 Desember Malam Anugrah FTJ 2012). Pada setiap hari pelaksanaannya diselenggarakan 1 (satu) kali pertunjukan. Bersamaan dengan hari pelaksanaan tersebut dan FTJ 2012 akan pula diramaikan oleh berbagai acara seperti Pameran 40 Tahun Festvival Teater Jakarta, Workshop Metodologi Riset Teater, Sharing Program dengan Kedutaan Asing Asia dan Eropa di Jakarta, Diskusi Woman Playwrights, Diskusi 40 Tahun Festival Teater Jakarta, Pertemuan Komite Teater Se-Indonesia, Dramatic Reading oleh 2 Kelompok Teater Lulusan FTJ dan Diskusi sutradara pentas teater di tiap akhir pementasan tentang pemaparan konsep dan proses pentas mereka.

 Pada tanggal 13 Desember 2012 merupakan acara penutupan FTJ 2012. Selain acara evaluasi penampilan peserta FTJ 2012 oleh Dewan Juri, pengumuman dan  pemberian hadiah,  FTJ 2012 akan ditutup dengan format malam anugrah pemenang.

 

 

PERSIJA JAKARTA
Tidak ada kata-kata yang bisa mengungapkan rasa cinta saya kepada tim Ibukota ini

PERSIJA JAKARTA

Tidak ada kata-kata yang bisa mengungapkan rasa cinta saya kepada tim Ibukota ini